Perlunya Kepemimpinan

Menikmati karya Robin Sharma, seperti menikmati kopi terenak di pagi hari. Kopi yang disajikan secara khusus untuk membangkitkan mood. The best mood booster. Saya mulai mengenal karya Robin Sharma melalui buku The Monk Who Sold His Ferrari. Setelah itu, cukup lama saya mengincar buku Robin yang direkomendasikan oleh salah satu toko buku langganan saya yaitu ‘Who Will Cry When You Die’. Kalau melihat dari karyanya terbaru yang diunggah media sosial, buku terbarunya adalah berjudul ‘5 AM Club’. Tapi memang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Entah akan diterjemahkan atau tidak. Buku ‘The Monk’-nya memang fenomenal. Buku ini bisa disebut salah satu buku motivasi best seller sepanjang masa, menurut saya begitu. Robin cukup khas dalam menyampaikan banyak pesan bijaknya. Khusus untuk The Monk, Robin memberikan peluang untuk kita berimajinasi dengan 2 tokoh karakter utama, yaitu John dan Julian Mantle. Julian, dikisahkan dalam buku Robin adalah sosok senior pengacara kelas atas yang memilih untuk pensiun dan berkarir untuk menjadi sosok yang lebih banyak berbagi kepada banyak orang. 

Banyak yang disampaikan dalam bukunya ‘The Monk‘, yang masih membekas dalam benak saya adalah pesan tentang kecemasan dan kekhawatiran. Betapa meruginya kita, ketika kita lebih memilih terlalu lama memikirkan kecemasan dan kekhawatiran. Terlalu banyak energi yang dikeluarkan ketika kita memberikan peluang terhadap kecemasan untuk menguasai pikiran kita.

Kali ini, saya berhasil menuntaskan bukunya berjudul ‘The Leader Who Had No Title‘. Cukup lama saya mempertimbangkan membeli dan membaca buku ini, padahal niatan sudah muncul selepas rekomendasi dan ulasan dari goodreads. Buku ini pada akhirnya saya beli ketika menjadi salah satu buku rekomendasi oleh Billy Boen dalam buku yang sudah saya rampungkan bacanya, yaitu buku teranyar Billy Boen ‘The Y Book‘. Dalam versi terjemahan yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka ini, Billy pun memberikan notes yang dipasang dalam cover buku Robin. “Robin Sharma mengajarkan kita berpikir dan bertindak sebagai pemimpin sejati, apa pun posisi kita saat ini”, begitu yang diungkapkan Billy Boen.

Buku ini cukup memberikan manfaat dan membantu saya lebih melek lagi tentang betapa besar makna menjadi atau membimbing diri sendiri menjadi ‘pemimpin’ dalam diri sendiri. Leadership atau kepemimpinan dibutuhkan dan sejatinya mampu dibuat atau diciptakan oleh kita. Begitu sekilas makna yang ingin disampaikan Robin Sharma. Buku yang juga termasuk menjadi International Best Seller ini, disajikan oleh Robin sama dengan gaya naratif di ‘The Monk‘. Bercerita. Kita akan dibawa mengenal sosok Blake, pemuda yang termasuk bekas Tentara Amerika yang berjuang di Irak. Sosok yang akhirnya selepas perang, memilih untuk bekerja sebagai penjaga toko buku. Sosok yang digambarkan sederhana dan ditampilkan menjadi sosok pesimis di awal cerita. Blake akan dibawa dan dibimbing oleh sosok senior yang jauh lebih tua darinya, bernama Tommy. Tommy pada akhirnya membawa Blake ke empat sosok rekannya. Saya menyebutnya empat rekan ini seperti ‘The Fantastic Four‘. Empat orang yang saling berkaitan dan memberikan pencerahan serta pendalaman kita mengenai pentingnya leadership. Rumusan utamanya adalah “Seni Memimpin Tanpa Jabatan”. Akan banyak akronim yang kita temukan dalam buku ini. Akronim yang sangat membekas dalam benak saya, kali ini, dalam buku ini adalah akronim IMAGE. Apa itu IMAGE?

I – Inovasi

M – Menguasai

A – Autentisitas

G – Guts (atau mungkin saya coba maknai dengan istilah Gigih)

E – Etika.

Kelima kata itu menjadi bagian utama yang disampaikan salah satu dari karakter ‘The Fantastic Four‘-nya Tommy. Sebagai pemimpin yang diharapkan tidak mensia-siakan waktu, kita senantiasa berpikir keras dan bekerja keras untuk membuktikan diri bermanfaat kepada orang lain. Usaha dan karya nyata yang baik, memang kadang memunculkan penilaian yang beragam dari masyarakat. Tapi, bukankah itu bukan jadi hambatan? Seberapa keras usaha kita, apapun usaha baik kita, penilaian masyarakat, acuhkan! Menurut buku ini, paling utama adalah cara pandang kita kepada diri sendiri. Bagaimana usaha kita untuk selalu menantang diri kita untuk berkembang dan bermanfaat serta menjadikan pekerjaan yang dilakoni menjadi berarti.

Penting untuk kita adalah penilaian diri kita sendiri – Robin Sharma

Sembari menikmati penjelasan akronim IMAGE di atas, buku ini memberikan makna yang mendalam juga untuk saya ketika menjelaskan terkait sosok manusia yang PUST atau FMOB. PUST adalah akronim berikutnya yang disebut sebagai Pertama, Utama, Satu-satunya dan Terbaik. FMOB adalah bahasa Inggrisnya, First, Most, Only and Best. Akronim ini disampaikan ketika menjelaskan “INOVASI”. Sebagai sosok sapiens yang cerdas, kita sudah sejatinya untuk mengembangkan diri menjadi sosok yang mampu menciptakan inovasi. Jika pada akhirnya muncul cacian, kritik, itu semua adalah bagian dari proses kita menjadi sempurna. Tidak ada yang  mudah menjadi sosok yang “MENGUASAI” atau menjadi pakar. Dijelaskan dalam buku ini, ketika kita ingin menguasai sesuatu atau menjadi pakar, diperlukan beberapa hal, yaitu waktu, usaha, dan kesabaran. Ini tentu tidak pas ketika disampaikan kepada generasi manusia yang lebih mengedepankan pada kata ‘instan’. 

Pada saat kita merasakan kegagalan, kadang sudah terbiasa kita bereaksi cemas dan panik. Kita pun akhirnya menyalahkan keadaan atau situasi yang berada di sekitar kita. Buku ini menegaskan hal yang sama. Bukannya mengakui kesalahan, tetapi malah mencari alasan seperti menuding atasan, suasana komptetitif, rekan kerja, atau kondisi yang penuh gejolak. Begitu buku ini menegaskannya. Saya memahami penjelasan ini. Padahal jika kita ingat kembali, bahwa kita sebagai manusia bertanggungjawab akan respon kita pada lingkungan tempat kita berada. Bukan yang lain. Buku ini juga menarik ketika mengkaitkan antara INOVASI dan MENGUASAI. Seorang pakar, akan identik dengan beragam ide. Ide segar yang kaya inovasi. Masalahnya yang sering terjadi, dan saya juga merasakan hal yang sama adalah ketika sadar kadang kita terlalu banyak berwacana tentang ide, dan justru tidak mengindahkan karakter pentingnya memulai realisasikan ide. Memulai dibutuhkan nyali. 

“Memulai memang paling berat. Awal adalah separuh pertempuran. Jadi, kerahkan kehendak dan kekuatan batinmu. Lalu akan jadi lebih mudah. Langkah kecil yang konsisten untuk menyongsong momentum”. Wah! ungkapan yang sangat membekas dalam mindset saya. Menarik dan dahsyat saya rasakan ketika saat ini sedang memulai suatu hal (revisi dan tuntaskan Bab 1 – Bab 3 Disertasi). Perjalanan menjadi Ph.D adalah perjalanan yang penuh proses indah. Perlu usaha, waktu dan kesabaran. Tetapi jika tidak dimulai? tidak berani memulai, mau kapan lagi menjadi sosok yang hebat dan menguasai! Kita punya kemampuan itu.

Akronim berikutnya dalam IMAGE adalah AUTENSITAS. Menjadi sosok yang original dan bukan karena mengikuti atau mencoba gaya orang lain. Mengidolakan sosok itu hal yang wajar dan perlu sebagai motivasi diri. Tapi, untuk berikutnya, kita perlu menjadi sosok yang autensitas. Menjaga harga diri dan citra diri. Menjadi diri sendiri itu penting, dan perlu kita pahami betul bahwa orang yang berkeberatan tidak penting dan orang yang penting tidak berkeberatan. Robin membantu cantumkan kutipan dari Oscar Wilde, yaitu: jadilah diri sendiri karena orang lain sudah ada yang punya. Cukup menjelaskan bukan? Melalui kisah ini, saya juga teringat betul bahwa berusaha membandingkan diri kita dengan orang lain adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan menghabiskan energi. Saya adalah saya. Bukan yang lain. Kita perlu memahami, proses usaha, waktu dan kesabaran orang lain kita, akan selalu berbeda.

GUTS, dalam buku ini, Robin menyebutnya sebagai naluri dalam bisnis. Saya lebih memilih menggunakan kata GIGIH dalam akronim ini, untuk menguatkan INOVASI, MENGUASAI dan AUTENSITAS. Gigih dalam artian kita dipaksa untuk selalu menjaga diri selalu kuat dalam menghadapi rintangan. Kita harus selalu mengingat bahwa kritik adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Tetapi kita harus merubah makna kritik itu, itu bukan rintangan dan hambatan. Itu adalah tools kita untuk lebih berkembang. Ingat Angela Duckworth dalam GRIT dan Carol Dweck dalam buku MINDSET. Inilah yang disebut sebagai unsur kegigihan. Semakin banyak rintangan yang kita hadapi akan semakin mudah kita melewati hal lain yang mirip rintangannya. Saya akan menambahkan pesan dari Robin dari bab lain. Ketika kita akan menemui unsur menyerah dan keputusasa-an. Ingat terus kata berikut ini, berulang kali ucapkan. KMF! kata Robin. Keep Moving Forward. Keep Moving Forward. Tetap bergerak dan jangan menyerah. Ketiga kata itu sangat berarti dan mendalam, apalagi pernah diungkapkan juga dalam film Rocky Balboa. Lebih mudah untuk saya. Menjaga diri untuk gigih dan tetap bergerak, akan jauuuuuh lebih baik daripada pilihan aktivitas diam diri. Terlalu meratapi, adalah kegiatan yang membuang energi dan membuang-buang waktu. Sia-sia.

Akronim yang terakhir dalam IMAGE adalah Etika. Etika sangat berkaitan dengan harga diri dan kehormatan diri. Kita harus senantiasa menjaga etika diri. Jangan sampai kita memilih jalur yang menodai integritas.

Membaca karya Robin Sharma ‘The Leader Who Had No Title’ seperti solusi pencerahan dan penyegaran untuk diri kita sendiri. Perlunya menanamkan, mengembangkan jiwa kepemimpinan dalam diri sendiri.

29 April 2019. Tangerang.